BoeMIKU
Badan Organisasi Meneliti dan Melindungi Bumi dan Indonesiaku

Bendungan dan Reboisasi Solusi Terbaik

Banjir musiman di wilayah selatan Bandung tidak bisa diselesaikan lewat satu solusi saja. Penanganan harus komprehensif, baik di daerah hulu maupun hilir. Bendungan dan reboisasi merupakan kombinasi terbaik untuk mengatasi banjir ini secara permanen.

Demikian intisari rekomendasi yang muncul dari para pakar dan pengamat banjir dari Institut Teknologi Bandung, Kelompok Riset Cekungan Bandung, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Selasa (9/12). Mereka dimintai pendapatnya tentang solusi penanganan banjir khusus di wilayah Bandung selatan.

Ketua Kelompok Keahlian Sumber Daya Air ITB Indratmo Soekarno mengatakan penyelesaian banjir di Bandung tidak bisa dilesaikan lewat cara voting (pilihan). "Saat ini, kesan yang muncul demikian. Satu alternatif solusi menimbulkan perdebatan satu sama lain, tanpa henti. Ini kan persoalan yang bisa dikaji secara ilmiah. Kenapa tidak dicoba dilesaikan lewat simulasi," ujarnya.

Pilihan memapas Curug Jompong, misalnya, hendaknya tidak langsung buru-buru divonis buruk. Sebagai ahli yang lama terlibat dalam bidang pemodelan banjir, Indratmo berpendapat, kekhawatira n banyak pihak bahwa pemapasan Curug Jompong bisa memicu percepatan erosi hingga ke hulu belum tentu terbukti.

"Resiko terjadi percepatan erosi itu memang ada, tapi akan terhenti pada kondisi tertentu. Kemiringan dasar sungai bisa capai titik keseimbangan," ucapnya sambil menyarankan perlunya simulasi pemapasan ini.

Meski demikian, ia memandang, proyek pemapasan Curug Jompong yang dapat menelan dana Rp 500 miliar ini hanya menjadi alternatif ketiga. Pilihan utamanya, yaitu mengkombinasikan penyelesaian di hulu dan hilir. Di hulu dilakukan reboisasi yang tentu hasilnya membutuhkan lama, hingga 15-20 tahun. Untuk jangka pendek, ia menyarankan perlunya pembangunan waduk-waduk di hulu Citarum sebagai tempat penampungan air limpasan sementara (retention basin ).

Serta, di pusat pertemuan Sungai Citarum dengan anak-anaknya yang letaknya itu lebih tinggi dari permukaan. Di wilayah anak-anak sungai-sungai inilah kerap terjadi arus balik (backwards) yang ikut memperparah banjir. Wilayah ini misalnya di Dayeuhkolot. Pembuatan waduk-waduk buatan ini bertujuan memperlambat laju air sungai. Proyek ini bisa selesai dalam waktu dua tahun.

Fungsi ganda

Menurut Budi Brahmantyo, anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, waduk ini bisa berfungsi ganda sebagai penampungan ( reservoir ) air. Sehingga, pada saat musim kemarau, ketersediaan air bisa tetap terjamin. Tidak terjadi kekeringan seperti saat ini.

Ia mengakui, pembuatan waduk-waduk kecil ini bisa memicu perubahan ekosistem sungai. "Kondisinya memang harus memilih yang terbaik dari yang terburuk. Jika tidak, mau tidak mau warga harus akrab dengan banjir seperti di Jepang," ucapnya.

Di negara maju ini, reservoir itu bukan sebuah waduk. Melainkan, lapangan besar bertembok beton yang bis a digunakan sebagai lapangan olahraga ketika kemarau. Menurutnya, membuat waduk ini adalah solusi jangka pendek yang lebih tepat dibandingkan proyek pemapasan Curug Jompong yang beresiko atau normalisasi Sungai Citarum yang berdana besar tapi tidak efektif.

Robert M. Delinom, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI memandang, upaya mengatasi banjir juga membutuhkan dukungan masyarakat. Misalnya, mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan yang memicu penyumbatan saluran drainase.

Termasuk, kesadaran membuat sumur-sumur resapan di halaman rumah masing-masing. Berdasarkan hasil penelitiannya, perbaikan fungsi lahan resapan air sebai knya dilakukan di lima titik cekungan Bandung, yaitu kawasan sekitar Dago, Ujung Berung, Majalaya, Kopo-Soreang, dan Cimahi. Saran ini sudah disampaikan ke Pemkot Bandung.    

0 komentar:

Posting Komentar

Iklan

Followers


Post Sebelumnya